Niat Baik


Hari ini saya belajar bahwa tidak semua orang mampu dan mau memahami niat baik kita.

By default, mengalami hal ini tentunya menyebalkan. Hampir seharian mood saya berantakan gara-gara kejadian ini.

Namun, saat emosi mereda dan logika sudah mulai bisa bekerja, saya mulai bisa mencoba berpikir dari sudut pandang orang tersebut. Maksud saya, ada banyak kemungkinan bukan, ia berperilaku 'tidak menyenangkan' seperti itu.

Siapa tahu, saat itu dia sedang menghadapi masalah yang sangat pelik dan rumit. Walaupun ada pula kemungkinan ia memang tidak terlalu menyukai saya dan sudah memiliki stigma negatif ke saya.

But who knows.

Daripada menghabiskan waktu dan tenaga mengeluhkan betapa buruk perilaku orang itu, dan membuat mood saya berantakan sepanjang hari, menurut saya sih, ada hal lain yang lebih bijak dilakukan.

Lagi pula, bukankah konyol kalau kita mengharapkan orang lain berubah seperti ekspektasi kita? Lah wong kita sendiri belum tentu mau disuruh berubah seperti ekspektasi orang lain toh.

Bagaimana menurutmu?

Skill Wajib Seorang Team Player


Setiap orang memiliki preferensi atau cara bekerjanya masing-masing. Ada yang lebih suka bekerja sendiri, ada pula yang lebih memilih bekerja dalam kelompok.

Tapi, apapun preferensinya suka nggak suka kita selalu menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Keluarga, komunitas, rekan kerja dalam dan lintas departemen, dll.

Karena menjadi bagian dari sesuatu itulah, kita perlu sadar bahwa apa yang kita lakukan memiliki dampak bagi orang lain.

Contoh sederhananya, di dalam lingkungan pekerjaan. Kita perlu sadar bahwa hasil kerja kita, laporan berkala yang kita serahkan, bisa berdampak bagi kinerja orang lain maupun departemen lain. Yang pada akhirnya memengaruhi kinerja perusahaan.

Dalam lingkup yang lebih kecil, keluarga misalnya, keputusan-keputusan yang kita buat, cara kita membelanjakan uang, pola hidup yang kita jalani, juga berdampak pada keluarga kita.

Jadi, sudah bukan saatnya lagi kita cupet dalam bersikap dan bertindak. Karena ada orang lain yang akan terimbas (bisa positif maupun negatif) dari perilaku kita.

Karena kita semua adalah team player, terlepas dari kita suka atau tidak.

Empati, Skill Wajib Team Player

Semalam, saya ngobrol banyak sama istri sambil menikmati makan malam bersama, di tengah dinginnya udara malam Pandaan yang sedang diguyur hujan.

Banyak hal yang kami obrolkan malam itu, terutama mengenai visi dan plan kami tahun depan.

Salah satu hal yang kami bicarakan malam itu adalah tentang pekerjaan. Ia menceritakan pengalaman-pengalamannya memimpin orang-orang di departemennya, atasannya, hingga pihak eksternal dengan segala kepentingannya.

Saya belajar banyak sekali malam itu.

Lalu, ia pun sampai pada kesimpulan bahwa menurutnya skill wajib yang harus dimiliki seorang team player adalah, empati.

Menurut KBBI, empati memiliki arti sebagai keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

Sederhananya, melihat dan merasakan sesuatu dari sudut pandang orang lain.

Kenapa empati ini penting?

Logikanya begini, sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar, di mana apa yang kita lakukan dapat berimbas bagi orang lain, bukankah bijaksana bila sebelum kita memutuskan sesuatu, kita meluangkan waktu dan pikiran untuk mencoba memahami apa sih dampak keputusan kita bagi orang lain.

Jika di dalam keluarga kita memutuskan untuk membeli mobil alih-alih rumah, coba kita pikirkan, apa yang akan pasangan atau anak-anak kita dengan keputusan itu. Cobalah melihat dari sudut pandang mereka.

Jika kita memutuskan menunda pekerjaan untuk menyelesaikan pekerjaan lainnya, bagaimana kira-kira dampaknya pada tim lain atau atasan kita? Coba untuk melihat dari sudut pandang mereka.

Mampu berempati dengan baik memang tidak mudah. Perlu dilatih secara konsisten. Karena jangan sampai berempati, kita malah terjebak dalam pola pikir ingin menyenangkan orang lain.

No, empathy doesn't work that way.

Berempati itu sesederhana mampu melihat sesuatu dari berbagai perspektif.

Easy? I don't think so. But it does surely possible.

Upgrade Diri Itu Keharusan Bukan Pilihan


Self Improvement Is The New Normal

Ada masanya ketika kemampuan mengetik dengan 10 jari adalah skill paling mbois yang bisa dikuasai manusia.

Bagaimana tidak, mesin ketik yang digunakan ketika itu jauh berbeda dibandingkan keyboard PC atau laptop masa kini. Keras cuy!

Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, dengan dua jempol saja, manusia masa kini sudah bisa menyelesaikan lebih banyak. Bahkan, sepertinya nggak ada yang peduli apakah kamu bisa mengetik 10 jari atau 21 jari. Yang penting kerjaanmu selesai dengan baik dan tepat waktu.

Setali dua uang, mampu mengendarai helikopter dan mengoperasikan kamera, mungkin awesome banget sebelum kemunculan drone yang mampu mengerjakan kedua hal itu sekaligus.

Teknologi akan selalu berkembang karena pada dasarnya kita sebagai manusia selalu mencari cara yang lebih efisien dan efektif.

Paling dekat mungkin fenomena ojek online yang sudah menjadi bagian dari keseharian kita.

Kalau dibandingkan dengan ojek jaman dulu, nggak kebayang kan mamang ojek menggunakan smartphone, menggunakan fitur canggih seperti GPS, hingga menerima pembayaran non tunai.

Tapi sekarang semua itu sudah menjadi biasa. Justru aneh kalau ada mamang ojek yang nggak akrab dengan teknologi.

Ya begitulah perubahan, selalu terjadi, suka atau tidak.

Yang bisa menyesuaikan diri dengan perubahan, 'usia pakai' mereka jauh lebih panjang dibandingkan dengan mereka yang terus menolak menyesuaikan diri, gagal move on, dan terjebak nostalgia dengan kejayaan masa silam.

Like it or not, we can always be replaced.

Jadi, jangan bosan untuk terus mengupgrade dirimu ya.

Kalau kamu merasa kamu sudah terlambat untuk berubah/upgrade diri, maka berlakulah sebagaimana layaknya orang yang terlambat...move faster.

Bagaimana menurutmu?

Hidup Untuk Hari Ini

Jika kamu adalah seorang pengendara motor yang hendak ke tempat A yang langitnya tampak cerah, tapi di lokasimu saat ini hujan turun dengan derasnya. Apakah kamu akan keukeh nggak pakai jas hujan dengan alasan tempat tujuanmu langitnya cerah?

Memiliki visi dan target untuk masa depan memang sangat penting. Saya rasa kita semua sepakat dengan hal ini.

Bahkan, kalau sampai ada orang yang menganggap memiliki tujuan hidup itu nggak perlu, orang itu ibarat kebelet pup, tapi nggak mau ke kamar mandi. Aneh kan? Ya, tapi seaneh-anehnya kaum ini, mereka benar-benar ada lho.

PELAJARAN DARI PERMAINAN MONOPOLI

Semalam, saya menemani Bio bermain monopoli berdua. Kebetulan si momi udah tepar duluan karena seharian cukup sibuk mengurus bisnis yang ia rintis dengan teman kuliahnya.

Sebenarnya sudah dari kemarin Bio minta main monopoli, cuma karena satu dan lain hal, akhirnya baru kesampaian main lagi, tadi malam.

Di permainan yang mirip kehidupan nyata ini, saya melakukan kesalahan fatal. Terlalu agresif membeli banyak persil sehingga uang saya cepat habis.

Akhirnya ketika pion saya mendarat di persil milik Bio atau kebetulan dapat kartu kesempatan di mana saya harus membayar denda, saya terpaksa menghipotekkan kartu negara yang saya punya.

Sehingga, alih-alih mendapat uang ketika pion Bio mendarat di persil saya, saya cuma bisa ndomblong. Lah gimana, kartunya disita bank.

Dari sini, saya belajar bahwa investasi untuk masa depan itu penting. Namun, menjaga arus kas untuk kebutuhan hari ini itu juga sangat sangat penting.

Sama halnya dengan cerita monopoli saya tadi. Karena terlalu fokus mengejar keuntungan di masa depan, akhirnya arus kas saya berantakan. Saya tidak cukup bijak mengalokasikan sumber daya saya.

Menyiapkan masa depan memang penting, tapi kita juga perlu menata hari ini. Karena kita hidupnya di hari ini kan, bukan besok.

Secerah-cerahnya tempat tujuan, jika langit di atas kepalamu mendung gelap pertanda hujan akan segera turun. Maka, menepilah dan kenakan jas hujanmu.

Jangan bebal.

PERTANYAAN UNTUK KAMU

Sudah sebaik apa sih kamu menjaga keseimbangan kehidupan masa depanmu dan kehidupanmu hari ini?

Apakah kamu bahagia dengan kehidupanmu sekarang tapi tetap siap siaga dengan apa yang mungkin terjadi masa depan?

Atau kamu terlalu fokus dengan impianmu di masa depan dan mengabaikan kehidupanmu hari ini, kesehatanmu, waktu untuk orang terkasih, dll.

Atau malah, kamu nggak mikir sama sekali tentang masa depan. Yang penting hari ini happy.

Jadi termasuk yang manakah kamu?

Memaafkan Masa Lalu


Salah satu nasehat untuk hidup bahagia adalah dengan memaafkan orang-orang yang telah memperlakukan kita dengan buruk di masa lalu.

Menerima dan memaafkan perlakuan buruk mereka, bukan karena mereka layak dimaafkan. Namun, karena kita layak hidup bahagia. Tanpa dihantui perasaan dan emosi negatif terhadap siapa pun.

Maafkan mereka semua, tanpa kecuali, termasuk diri kita sendiri.

Bukankah kita juga satu di antara mereka yang memperlakukan diri kita dengan buruk?

Kecemasan berlebihan dalam memulai sesuatu, kesalahan memalukan yang sulit terlupakan, ketidaktegasan untuk take action, kemalasan mempelajari hal penting, dan masih banyak lagi kebodohan dan kekonyolan lainnya yang membuat kita malu dan menyesal saat mengingatnya.

Jika kita bisa memaafkan orang lain yang berlaku buruk pada diri kita, kenapa nggak melakukan hal yang sama untuk diri kita di masa lalu. Si tukang pembuat kesalahan.

Mungkin sempat terpikir olehmu, kalau saja kamu sekarang balik ke masa lalu, tentunya kamu akan melakukan hal yang berbeda.

Tapi apa gunanya?

Nantinya juga akan muncul masalah baru yang bisa jadi, lebih buruk dan meninggalkan bekas luka yang sangat dalam untuk diri kita di masa depan.

Kenapa nggak, berdamai saja. Lihat ke cermin dan akuilah. Katakan pada dirimu, kalau kamu yang dulu memang salah. Itu sudah terjadi, ya sudah, biar terjadi. Terima itu sebagai salah satu episode hidupmu.

Tak perlu disesali. Terima saja. Apa yang ada di depanmu lebih berharga dan berhak atas waktu dan energimu yang kamu buang percuma menyesali dan berandai-andai tentang merubah masa lalu.

Face forward and let the past become part of your success history.

Tentukan Dulu Apa Tujuannya




Gimana sih caranya mulai ngeblog?
Gimana ya caranya memulai bisnis? 
Gimana ya caranya ini...itu...dll.

Pernah ketemu nggak sama orang yang curious banget sama gimana ini dan gimana itu, tapi ujung-ujungnya nggak ada yang dikerjain?

Sibuk browsing how to, tapi berakhir dengan keruwetannya sendiri dan...nothing done.

Atau jangan-jangan, ternyata Anda sendiri orang yang seperti itu 😃

Kadang-kadang kita ini suka bikin hal simpel jadi super ruwet karena terlalu sibuk mencari cara.

Saya suka menganalogikan orang-orang ini seperti ketika kita hendak berlibur, travelling bersama keluarga.

Pertanyaan saya, kalau Anda berencana travelling itu, Anda tentukan dulu destinasinya lalu memilih moda transportasinya. Atau Anda suiibuk cari tiket termurah dulu, terlepas ke mana pun destinasinya.

Kan ditentukan dulu mau ke mananya toh?

Lah, sama halnya di dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu cara paling simpel untuk membuat hidup Anda lebih simpel yang saya tahu adalah, menentukan tujuannya atau hasil akhir yang Anda mau capai.

Baru kemudian cari caranya yang paling efektif dan efisien. Not the other way around.

Sederhananya, nggak usah pusing mau naik apa, kalau nggak tahu mau ke mana.

Anda setuju?

Udah Ngeluh Apa Hari Ini?



Beberapa hari lalu, seorang kawan membagikan video singkat lewat Whatsapp Story-nya. Video itu berjudul, Udah Ngeluh Apa Aja Hari Ini.

Dari video itu, saya, si ahli pengeluh ini, seakan sedang diingatkan Allah betapa beruntungnya saya dibandingkan orang-orang di luar sana. Mereka yang saya yakin, tak akan keberatan untuk bertukar kehidupan dengan saya.

Terkadang, kita memang perlu sesekali melihat sekeliling kita untuk sekedar menysukuri apa yang kita miliki.

Sekedar mengingat, betapa banyak yang kita telah terima, dan betapa sedikit kita telah mensyukuri semua itu.