Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts
Apa Yang Saya Pelajari Tentang Mengajarkan Kemandirian Pada Anak (Bagian 3)
Setelah tahu apa dan kenapa, pertanyaan berikutnya yang perlu dijawab adalah...bagaimana cara melatih kemandirian anak.
Apa Yang Saya Pelajari Tentang Mengajarkan Kemandirian Pada Anak (Bagian 2)
Di tulisan sebelumnya, saya sudah membahas tentang beberapa kesalahpahaman orangtua, termasuk saya dalam melatih kemandirian anak.
Apa Yang Saya Pelajari Tentang Mengajarkan Kemandirian Pada Anak (Bagian 1)
Melatih kemandirian anak, mungkin terdengar mudah dan sederhana. Namun, sayangnya kenyataannya tak sejalan dengan apa yang terdengar.
Apa Yang Anak Harapkan Dari Seorang Ayah
Penuhi ekspektasi pelangganmu agar mereka loyal kepadamu.
Maaf, Papa Lupa Mendoakanmu Nak
Teruntuk para ayah, selamat hari ayah nasional ya. Di momen ini, saya mau mengajak kamu untuk sejenak bertanya pada dirimu sendiri, "Sudah se-ayah apakah kamu?"
7 Peran Anak Di Masa Depan Yang Harus Disiapkan Sejak Dini
Anak-anak tidak akan selamanya jadi anak-anak. Walaupun, di mata kita sebagai orang tuanya, mereka akan selalu menjadi anak-anak.
Soon or later mereka akan tumbuh menjadi seorang remaja hingga dewasa. Dan, di setiap tahapan tersebut, ada tugas-tugas yang menanti mereka.
Pertanyaannya, sudah sebaik apa kita, orang tuanya, menyiapkan mereka untuk memenuhi tugas-tugas tersebut?
Memiliki Ayah Seorang Superman
Saya mungkin adalah anak yang beruntung. Lahir dan besar di lingkungan keluarga yang berkecukupan. Bapak dan ibu juga merupakan sosok yang menyayangi keluarganya.
Sangking sayangnya Bapak dan Ibu, saya jadi merasa kesulitan, kapan tepatnya terakhir kali saya merasakan apa itu "susah". Ya, Bapak dan Ibu adalah tipe orang tua penyayang yang tidak ingin melihat anaknya mengalami kesulitan.
Terutama Bapak.
Entah karena tidak tega atau merasa kehadiran saya justru merepotkan dan mempersulit, beliau acapkali bertindak seperti Superman yang mampu mengatasi semua masalahnya sendirian.
Dari masalah mobil mogok, pompa air bermasalah hingga tidak mau bergantian menyetir mobil saat pulang kampung.
Bapak selalu menangani semuanya sendiri, tanpa mau melibatkan anak-anaknya. Akibatnya, kenyamanan itu membuat saya pribadi merasa kepothokan ketika berhadapan dengan masalah-masalah. Terlebih saat berumah tangga.
Banyak hal dalam rumah tangga yang tampaknya sepele bagi seorang laki-laki di mata orang lain seperti memperbaiki pompa air yang cethak-cethek, memasang kasa nyamuk di jendela, memasang paving, hingga mengganti MCB. Nyatanya justru hal-hal sepele itu baru saya hadapi saat sudah berumah tangga.
Beruntung, saat ini informasi-informasi 'sepele' itu sudah tersedia dan mudah untuk diakses. Jadi, walapun sambil meraba-raba, beberapa hal bisa saya selesaikan berbekal informasi dari Youtube atau artikel blog.
Hal ini sempat membuat saya berandai-andai kalau saja bisa kembali ke masa-masa sebelum menikah, saya akan banyak belajar tentang hal-hal 'sepele' semacam ini agar saat sudah menikah, saya bisa menyelesaikan bahkan mengajarkan cara penyelesaian masalah tersebut ke anak saya.
Tujuan Pengasuhan, Menyiapkan Anak Menjalani Peran Spesifik Di Masa Depan
Berkaca dari 'kenyamanan' yang saya terima di masa kecil, saya mulai berpikir untuk memutus rantai kenyamanan tersebut, agar Bio nantinya tidak mengalami seperti yang saya alami, kesulitan melakukan yang seharusnya ia lakukan.
Di tulisan sebelumnya, saya pernah cerita tentang visi saya untuk mendidik Bio agar menjadi pribadi yang mandiri secara spiritual, emosional, sosial dan finansial.
Beberapa waktu lalu, saya mendapat insight dari WA Story seorang sahabat mengenai 7 peran yang nantinya akan Bio jalani di dalam kehidupannya dan sepertinya ini akan menjadi PR besar buat saya untuk memastikan Bio mampu menjalani ketujuh peran ini dengan baik:
- Hamba Allah
- Suami
- Ayah
- Profesional
- Pendidik
- Penanggung jawab keluarga
- Bagian dari masyarakat
Kesimpulan
Ketujuh peran tersebut merupakan peran yang nantinya Bio akan jalani. Dan sudah jadi tugas saya sebagai orang tuanya untuk mengenalkannya dan mengajarkannya cara menjalani peran-peran tersebut dengan baik.
Bagaimana menurutmu?
Anakku Nakal Karena Aku Kurang Akal
Ironis. Mungkin itulah satu kata yang paling menggambarkan kondisiku saat ini.
Kenapa Anak Tiba-Tiba Berkata Kasar
Pernah nggak terheran-heran saat anak kamu yang lucu dan manis itu, tiba-tiba pulang dengan segebok kosa kata kasar, umpatan dan makian? Lalu kamu bertanya-tanya, "Ni anak niru siapa sih?!"
Waktu Berkualitas Bersama Keluarga
Rasanya kita sudah tak asing lagi dengan lirik Harta Berharga yang menjadi soundtrack Keluarga Cemara ini. Sebuah film lawas yang diangkat ke layar lebar tahun lalu.
Saya sendiri belum sempat nonton film ini, jadi ya saya nggak bisa cerita banyak. Apa yang mau saya tuliskan kali ini adalah mengenai bagaimana kita memaknai keluarga, harta paling berharga ini. Sudah kah kita memperlakukannya selayaknya harta berharga? Atau, jangan-jangan kita sering kali take it for granted.
Senang bukan kepalang, Midas kembali ke istananya dan merubah seisi istana menjadi emas. Semua yang ia sentuh berubah menjadi emas. Termasuk makanan dan minuman, sehingga membuatnya khawatir akan mati kelaparan dan kehausan.
Namun, petaka yang lebih buruk terjadi. Tanpa sengaja Midas menyentuh putri semata wayangnya dan dalam sekejap ia pun berubah jadi emas.
Midas begitu sedih dan meminta Dionysus mencabut kemampuannya itu. Dionysus memerintahkan Midas untuk membasuh tangannya dengan air dari Sungai Pactolus. Seketika itu Midas bergegas ke Sungai Pactolus dan segera membasuh tangannya. Dan, kutukan sentuhan emas itu pun berakhir.
Midas begitu bahagia melihat putrinya kembali seperti sedia kala. Ia kini menyadari bahwa ada harta yang begitu berharga...jauh lebih berharga dibandingkan emas.
Walaupun, sungguh sangat ironis betapa seringkali kita (saya) mengorbankan keluarga untuk hal yang lain. Waktu yang habis banyak dalam pekerjaan, menyisakan kurang dari 3 jam efektif bagi saya menemani anak dan istri saya. Itu pun sudah sibuk sendiri mengurus kewajiban-kewajiban rumah tangga seperti membersihkan rumah, menyuapi anak, mencuci piring, dan lainnya. Praktis, hampir tidak ada waktu untuk sekedar bercakap-cakap santai atau bermain bersama anak.
Yang tersisa hanya akhir pekan.
Ada yang bilang kualitas lebih penting daripada kuantitas. Namun, dalam hal kebersamaan bersama keluarga, saya percaya bahwa quality time comes in a right quantity.
Bagaimana denganmu?
Saya sendiri belum sempat nonton film ini, jadi ya saya nggak bisa cerita banyak. Apa yang mau saya tuliskan kali ini adalah mengenai bagaimana kita memaknai keluarga, harta paling berharga ini. Sudah kah kita memperlakukannya selayaknya harta berharga? Atau, jangan-jangan kita sering kali take it for granted.
Kisah Raja Midas
Ada sebuah cerita menarik tentang seorang raja yang begitu mencintai emas bernama Raja Midas. Dikisahkan Midas yang telah berjasa kepada Dionysus, Dewa Anggur, meminta agar ia memiliki kemampuan untuk merubah semua yang ia sentuh menjadi emas. Dionysus pun mengabulkan permintaan Midas.Senang bukan kepalang, Midas kembali ke istananya dan merubah seisi istana menjadi emas. Semua yang ia sentuh berubah menjadi emas. Termasuk makanan dan minuman, sehingga membuatnya khawatir akan mati kelaparan dan kehausan.
Namun, petaka yang lebih buruk terjadi. Tanpa sengaja Midas menyentuh putri semata wayangnya dan dalam sekejap ia pun berubah jadi emas.
Midas begitu sedih dan meminta Dionysus mencabut kemampuannya itu. Dionysus memerintahkan Midas untuk membasuh tangannya dengan air dari Sungai Pactolus. Seketika itu Midas bergegas ke Sungai Pactolus dan segera membasuh tangannya. Dan, kutukan sentuhan emas itu pun berakhir.
Midas begitu bahagia melihat putrinya kembali seperti sedia kala. Ia kini menyadari bahwa ada harta yang begitu berharga...jauh lebih berharga dibandingkan emas.
Moral Cerita
Cerita Raja Midas ini mengajarkan bahwa betapapun berharganya harta benda, tetapi tidak ada yang bisa menggantikan keluarga.Walaupun, sungguh sangat ironis betapa seringkali kita (saya) mengorbankan keluarga untuk hal yang lain. Waktu yang habis banyak dalam pekerjaan, menyisakan kurang dari 3 jam efektif bagi saya menemani anak dan istri saya. Itu pun sudah sibuk sendiri mengurus kewajiban-kewajiban rumah tangga seperti membersihkan rumah, menyuapi anak, mencuci piring, dan lainnya. Praktis, hampir tidak ada waktu untuk sekedar bercakap-cakap santai atau bermain bersama anak.
Yang tersisa hanya akhir pekan.
Ada yang bilang kualitas lebih penting daripada kuantitas. Namun, dalam hal kebersamaan bersama keluarga, saya percaya bahwa quality time comes in a right quantity.
Bagaimana denganmu?
Menjadi Orang Tua Yang Sabar Ala Zen Habits
The most difficult part of mastering parenting is become one.
Waktunya Sekolah, Waktunya Macet Lagi
Libur telah usai, waktunya kembali lagi ke sekolah.
Money Parenting, Kenalkan Anak Tentang Uang Dengan Benar
Uang memang tak bisa membeli kebahagiaan, tapi percaya deh, lebih baik punya uang daripada enggak.
Cerita Saya Mandiin Piper Di Tempat Cuci Mobil Di Pandaan
Mumpung lagi tanggal merah, waktunya mandiin Piper biar ganteng.
Akhir Pekanku Ke Dokter Gigi Di Surabaya Untuk Bersihkan Karang Gigi
Berkunjung ke dokter gigi bukanlah agenda favorit saya. Bagaimana denganmu?
Syarat, Biaya dan Alur Penggantian Plat Nomor Kendaraan di Samsat Surabaya 2021
Bulan November ini, habis sudah masa berlaku plat nomor motor saya. Tak terasa (((tak terasa))) udah 5 tahun berlalu, si putih menemani perjalanan saya ke sana-sini, dari menjemput rejeki, hingga sekedar wira-wiri tanpa tujuan.
Presence Is The Best Present : Sebuah Cerita Tentang Quality Time
Note : Tulisan ini merupakan postingan lama (originally posted on 2019) dari blog saya yang sudah almarhum. Sengaja saya posting ulang di sini, untuk pengingat saya pribadi tentang apa itu quality time.




